Hibridisasi
adalah sebuah konsep bersatunya orbital-orbital atom membentuk orbital hibrid
yang baru yang sesuai dengan penjelasan kualitatif, sifat ikatan atom. Konsep
orbital-orbital yang terhibridisasi sangatlah berguna dalam menjelaskan bentuk
orbital molekul dari sebuah molekul. Konsep ini adalah bagian tak terpisahkan
dari teori ikatan valensi.
a.orbital
hibrida dari Nitrogen dan Oksigen
Banyak gugus
fungsi penting dalam senyawa organik mengandung nitrogen ataupun oksigen.
Secara elektronika nitrogen sama dengan karbon dan orbital atom dari nitrogen
berhibridisasi menurut cara yang bersamaan dengan karbon.
Seperti yang
ditunjukkan diagram orbital ini, nitrogen dapat menghibridisasi keempat orbital
atom tingkat kedua menjadi empat orbital ikatan sp3 yang ekuivalen.
Namun demikian, perhatikan satu perbedaan penting antara nitrogen dan karbon.
Karbon mempunyai empat elektron untuk dibagikan dalam empat orbital sp3,
sedangkan nitrogen mempunyai lima elektron yang didistribusikan dalam empat
orbital sp3. Satu orbital sp3 dari nitrogen diisi dengan
sepasang elektron dan nitrogen dapat membentuk senyawa dengan hanya tiga ikatan
kovalen terhadap atom lain.
b.
ikatan rangkap terkonjugasi
Tujuan konjugasi
adalah untuk membuat molekul yang stabil. Molekul organik dapat mengandung
lebih dari satu gugus fungsi. Dalam kebanyakan senyawa polifungsional setiap
gugus fungsi tak bergantung dari yang lain meskipun demikian tak selalu demikan
halnya.bada dua cara pokok untuk menampatkan ikatan rangkap dalam senyawa organik.
Dua ikatan rangkap yang bersumber pada atom berdampingan disebut ikatan rangkap
terkonjugasi. Sedangkan ikatan rangkap yang menggabungkan atom yang tak
bedampingan disebut ikatan rangkap terisolasi (terpencil) atau tak
terkonjugasi.


Sebagai
contihnya adalah cis dan trans. Dari kedua contoh tersebut trans lebih stabil
dibandingkan dengan cis. Hal ini dikarenakan halangan sterik yang dimiliki oleh
cis lebih besar sehingga tolakan antara molekulnya besar mebuat energi
kinetiknya pun besar hal ini menyebabkan cis lebih mudah mencair dibandingkan
dengan trans. Selain itu trans juga lebih mudah mendidih hal ini dikarenakan
kerapatan elektron yang dimiliki trans kecil sedangkan cis memiliki kerapatan
elektron besar sehingga kebolehjadian elektron pada cis lebih banyak
dibandingkan kebolehjadian trans hal ini membuat ikatan pada cis kuat sedangkan
pada trans ikatannya mudah terputus sehingga trans lebih mudah mendidih
dibandingkan cis.
c.benzena
dan resonansi
Benzena (C6H6)
adalah senyawa siklik dengan enam atom karbon yang tergabung dalam cincin.
Setiap atom karbon terhibridisasi sp2 dan cincinnya adalah planar,
setiap atom karbon mempunyai atu atom hidrogen yang terikat padanya, dan setiap
atom karbon juga mempunyai orbital p tak terhibridisasi tegak lurus terhadap
bidang ikatan sigma dari cincin. Masing-masing dari keenam orbital p ini dapat
menyumbangkan satu elektron untuk ikatan pi.

Benzena salah satu golongan dari senyawa
aromatik, senyawa yang mengandung awan pi aromatik. Benzena adalah contoh suatu
senyawa organik yang tak dapat
digambarkan secara teliti oleh rumus ikatan valensi tunggal. Delokalisais dari
elektron pi menghasilkan sistem dalam mana elektron pi mencakup lebih daripada
dua atom. Untuk dapat menggambarkan
distribusi elektron pi dalam benzena dengan menggunaka rumus ikatan valensi
klasik, harus digunakan dua rumus.


Benzena
memiliki keunikan bila alkena direaksikan dengan Br2 dapat berekasi
sedangkan apabila benzena C6H6 direaksikan dengan Br2
tidak dapat bereaksi. Untuk merekasikan benzena dengan Br2 perlu
adanya katalis contoh dari katalis adalah FeBr3 mengapa perlu
katalis FeBr3 hal ini dikarenakan Fe memiliki orbital d yang kosong
sehingga ikatan pi yang ada pada benzena dapat masuk didalamnya dan kemudian Br
dapat masuk menggantikannya.
GUGUS PENGARAH ORTO,PARA,DAN GUGUS PENGARAH META
· Tempat
Substitusi
Suatu benzena yang sudah
tersubstitusi dapat mengalami substitusi kedua dan menghasilkan disubstitusi benzena.
Struktur dari substitusi pertama menentukan tempat dari substitusi kedua dalam cincin
benzena. Misalnya, suatu gugus metil dalam cincin mengarahkan substitusi yang kan
datang terutama ketempat orto dan para. Sedangkan suatu gugus nitro dalam cincin
benzena mengarahkan substitusi kedua yang akan datang terutama ketempat meta.
Sifat-sifat fisik dan reaktivitas cincin benzena sangat dipengaruhi oleh apakah
substituen mengurangi atau menambah kerapatan elektron pada cincin. Mengingat bahwa
cicnin aromatik mempunyai awan elektron diatas dan dibawah bidang cincin dan elektron-elektron
inilah yang mudah diserang oleh elektrofil. Bila sebuah gugus penarik elektron ditempatkan
pada cincin, benzena yang relatif nonpoalar akan elektronegatif. Perubahan ini kemudian
mengubah sifat-sifat fisik senyawa, misalnya titik cair dan titik didih. Setiap
gugus yang terikat pada cincin akan mempengaruhi reaktivitas cincin serta menentukan
orientasi substitusi. Bila suatu pereaksi elektrofilik menyerang cincin aromatik,
gugus yang telah terikat pada cincinlah yang akan menentukan dimana dan bagaimana
penyerapan tersebut berlangsung. Substituen yang sudah ada pada cincin aromatik
menentukan posisi yang diambil oleh substituen baru. Contohnya, nitrasi pada toluena
terutama menghasilkan campuran orto-dan para-nitrotoluena. Sebaliknya, nitrasi pada
nitro benzena pada kondisi yang serupa terutama menghasilkan isomer meta.
Pola ini juga diikuti oleh
substitusi aromatik elektrofilik lain, yakni klorinasi,bromonasi,sulfonasi,danseterusnya.Toluena
terutama juga menjalani substitusi orto,para,sementara nitro benzena menjalani substitusi
meta. Secara umum, gugus terbagi kedalam salah satu dari dua kategori. Gugus tertentu
tergolong pengarah orto,para,dan yang lainnya ialah pengarah meta.
a.Gugus Pengarah Orto, Para
(Aktivator)
Gugus pada cincin akan mengarahkan
substituen yang baru masuk pada posisi orto,para atau meta sesuai dengan gugus mulanya.
Gugus mula tersebut yang disebut sebagai penentu orientasi. Gugus yang merupakan
activator kuat adalah gugus pengarah orto, para (adisi elektrofilik mengambil tempat
pada posisi orto dan para bergantung pada activator). Orientasi ini terutama disebabkan
oleh kemampuan substituen pengaktif kuat untuk melepaskan elektron (gugus amino
dan gugus hidoksil merupakan gugus activator yang baik). Pada reaksi nitrasi pada
toluena, dapat dilihat bahwa ion nitronium dapat mneyerang karbon cincin yang posisinya
orto,meta,atau para terhadap gugus meta. Pada salah satu dari ketiga penyumbang
resonansi pada ion benzenonium antar (intermediet) untuk substitusi orto atau para,
muatan positif berada pada karbon pembawa metil. Penyumbang resonansi itulah karbo
kation tersier dan lebih stabil dari pada penyumbang lainnya, yang merupakan karbo
kation sekunder. Sebaliknya, dengan serangan meta, semua penyumbang adalah karbo
kation sekunder, muatan positif pada ion benzenonium intermediet tidak pernah bersebelahan
substituen metil. Dengan demikian, gugus metal ialah pengarah orto,para,karena reaksi
ini dapat berlangsung melalui karbo kation intermediet yang paling stabil. Sama
halnya, semua gugus alkil adalah orto,para. Pada gugus –F, -OH, dan-NH2 memiliki
pasangan elektron bebas, pasangan elektron bebas inilah yang dapat menstabilkan
muatan positif disebelahnya Baik dalam serangan orto atau para, salah satu penyumbang
pada ion benzenonium intermediet menempatkan muatan positif pada karbon hidroksil.
Pergeseran pasangan elektron bebas dari oksigen kekarbon positif menyebabkan muatan
positif terdelokalisasi lebih jauh, yaitu keoksigen. Tidak mungkin ada struktur
seperti ini pada serangan meta. Dengan demikian hidroksil adalah pengarah orto,para.
Pada turunan senyawa aromatik yang lain seperti pada anilina juga termasuk sebagai
activator, yaitu gugus pengarah orto, para. Akibat stabilisasi resonansi anilina
ialah bahwa cincin menjadi negatif sebagian dan sangat menarik bagi elektrofilik
yang masuk. Semua posisi orto,meta,dan para pada cincin anilina teraktifkan terhadap
substitusi elektrofilik, namun posisi orto,para lebih teraktifkan dari pada posisi
meta. Struktur resonansi terpaparkan diatas menunjukkan bahwa posisi-posisi orto
dan para mengemban muatan negatif parsial, sedangkan posisi meta tidak. Gugus amino
dalam anilina mengaktifkan cincin benzena terhadap substitusi sedemikian jauh sehingga
tidak perlu katalis asam Lewis, dan sangat sukar untuk memperoleh mono bromo anilina.
Anilina beraksi dengan cepat membentuk 2,4,6-tri bromo anilina (kedua posisi orto
dan posisi para terbrominasikan). Jadi dapat disimpulkan bahwa semua gugus dengan
elektron bebas pada atom yang melekat pada cincin ialah pengarah orto dan para.
b.Gugus Pengarah Meta
Suatu pengarah meta mempunyai
atom bermuatan positif atau sebagian positif yang terikat pada cincin benzena. Dalam
reaksi nitrobenzena, gugus nitronya tidak menambah kesetabilan intermedietnya. Malahan
intermediet substitusi orto,atau para dan keadaan transisinya kurang stabil (karena
energy yang tinggi), karena sebuah struktur resonansi mengandung muatan positif
pada atom berdekatan. Oleh karena itu, substitusi terjadi lebih banyak pada tempat
meta, sebab keadaan transisi dan intermediatnya pada tempat yang berdekatan mengandung
muatan positif. Pada nitrobenzena, nitrogen memiliki muatan formal+1, sebagaimana
ditunjukkan pada strukturnya. Persamaan untuk pembentuk anion benzenonium intermediet
ialah salah satu penyumbang pada hybrid resonansi intermediet untuk substitusi orto
atau para memiliki dua macam positif yang bersebelahan, yaitu susunan yang sangat
tidak diinginkan, sebab muatan yang sama saling tolak-menolak. Tidak ada intermediet
seperti ini pada meta, karena alasan inilah substitusi meta lebih disukai. Setiap
gugus pengarah meta dihubungkan kecincin aromatik oleh suatu atom yang merupakan
bagian dari ikatan rangkap atau ikatan rangkap tiga, dengan ujung lainnya ialah
atom yang lebih elektro negatif dari pada karbon seperti atom oksigen dan nitrogen.
Dalam hal ini, atom yang langsung melekat pada cincin benzena akan membawa muatan
positif parsial seperti nitrogen pada gugus nitro. Ini karena penyumbang resonansi,
seperti semua gugus yang serupa itu akan menjadi pengarah meta karena alasan yang
sama seperti gugus nitro yang bersifat meta, untuk menghindari adanya dua muatan
positif yang bersebelahan dalam ion benzenonium intermedietnya. Dapat disimpulkan
semua gugus dengan atom yang langsung melekat pada cincin aromatik bermuatan positif
atau merupakan bagian dari ikatan majemuk dengan unsur yang lebih elektronegatif
ialah pengarah meta.
· Efek
Substituen Pada Reaktivitas.
Substituen tidak saja mempengaruhi
posisi substitusi, tetapi juga mempengaruhi laju substitusi, yaitu apakah akan berlangsung
lebih lambat atau lebih cepat dibandingkan benzena. Suatu substituen dianggap sebagai
pengaktif (activating) jika lajunya lebih cepat dan pendeaktif (deactivating) jika
lajunya lebih lambat. Dalam semua gugus pengarah meta, atom yang berhubungan dengan
cincin membawa muatan positif penuh atau parsial dan dengan demikian akan menarik
elektron dari cincin. Semua pengarah meta dengan demikian juga merupakan gugus pendeaktif
cincin. Sebaliknya, gugus pengarah orto para pada umumnya memasok elektron kecincin
dan dengan demikian merupakan pengaktif cincin. Akan halnya halogen (F,Cl,Br,danI),
kedua efek yang berlawanan ini, mengakibatkan pengecualian penting pada aturan tersebut.
Karena bersifat sebagai penarik elektron kuat, halogen merupakan pendeaktif cincin,
namun karena adanya pasangan elektron bebas, maka halogen adalah pengarah orto para.
assalamualaikum wr.wb
BalasHapussaya ingin bertanya mengapa reaksi nitrobenzena, gugus nitronya tidak menambah kesetabilan intermedietnya? tolong anda jelaskan!
terimakasih.
Assalamu'alaikum rianti nita wulandari. saya ingin bertanya, kenapa senyawa organik benzene tidak dapat digambarkan secara teliti oleh rumus ikatan valensi tunggal?
BalasHapusAssalamualaikum wr wb
BalasHapussaya hanya ingin sedkit menambahkan,
Sistem konjugasi terjadi dalam senyawa organik yang atom-atomnya secara kovalen berikatan tunggal dan ganda secara bergantian (C=C-C=C-C) dan mempengaruhi satu sama lainnya membentuk daerah delokalisasi elektron. Elektron-elektron pada daerah delokalisasi ini bukanlah milik salah satu atom, tetapi milik keseluruhan sistem konjugasi ini. Contohnya fenol (C6H5OH) memiliki sistem 6 elektron di atas dan di bawah ciccin planarnya sekaligus di sekitar gugus hidroksil.
Molekul organik dapat mengandung lebih dari satu gugus fungsi. Dalam kebanyakan senyawa polifungsional, setiap gugus fungsi tak bergantung dari yang lain. Walaupun demikian, tidak selalu demikian keadaannya.
Ada dua cara pokok untuk menempatkan ikatan rangkap dalam senyawa organik. Dua ikatan rangkap yang bersumber pada atom berdampingan disebut ikatan rangkap terkonjugasi. Ikatan rangkap yang menggabungkan atom yang tak berdampingan disebut ikatan rangkap terisolasi atau taj terkonjugasi.
baiklah saya ingin menjawab pertanyaan dari saudari lukita sari Dalam reaksi nitrobenzena, gugus nitronya tidak menambah kesetabilan intermedietnya. Malahan intermediet substitusi orto, atau para dan keadaan transisinya kurang stabil (karena energy yang tinggi), karena sebuah struktur resonansi mengandung muatan positif pada atom berdekatan. Oleh karena itu, substitusi terjadi lebih banyak pada tempat meta, sebab keadaan transisi dan intermediatnya pada tempat yang berdekatan mengandung muatan positif.
BalasHapus